Minggu, 09 November 2025

Mengapa Saya Harus Menulis Ini: Matinya Kepakaran

 

Berita yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial “seorang dosen dibayar Rp. 300. 000 di sebuah acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa, sedangkan soerang influencer yang juga diundang dalam acara tersebut dibayar belasan juta rupiah”. Hal ini merupakan simbol bahwa “popularitas lebih dihargai, daripada kepakaran” yang merupakan cerminan dari permasalahan sosial masyarakat di era digital. Apabila mindset seperti ini tidak dirubah, maka akibatnya dapat menimbulkan permasalahan sosial yang lebih kompleks. Opini populer yang disampaikan oleh influencer akan cenderung dianggap sebagai nilai kebenaran, sedangkan opini yang tidak populer atau berbeda dengan opini pada umumnya akan cenderung diabaikan dan dianggap aneh meskipun disampaikan oleh pakar dalam bidang terkait. Kondisi seperti ini dapat mematikan critical thingking masyarakat dalam mengolah informasi, padahal kemampuan tersebut merupakan kemampuan yang paling dibutuhkan di era digital. Pada hakikatnya, masyarakat harus selalu menyisakan ruang kritis terhadap segala bentuk informasi di ruang digital, baik yang yang disampaikan oleh pakar maupun oleh influencer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengapa Saya Harus Menulis Ini: Matinya Kepakaran

  Berita yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial “seorang dosen dibayar Rp. 300. 000 di sebuah acara yang diselenggarakan oleh ma...