Berita yang sedang hangat
diperbincangkan di media sosial “seorang dosen dibayar Rp. 300. 000 di sebuah
acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa, sedangkan soerang influencer yang juga
diundang dalam acara tersebut dibayar belasan juta rupiah”. Hal ini merupakan
simbol bahwa “popularitas lebih dihargai, daripada kepakaran” yang merupakan cerminan
dari permasalahan sosial masyarakat di era digital. Apabila mindset seperti ini
tidak dirubah, maka akibatnya dapat menimbulkan permasalahan sosial yang lebih
kompleks. Opini populer yang disampaikan oleh influencer akan cenderung dianggap
sebagai nilai kebenaran, sedangkan opini yang tidak populer atau berbeda dengan
opini pada umumnya akan cenderung diabaikan dan dianggap aneh meskipun
disampaikan oleh pakar dalam bidang terkait. Kondisi seperti ini dapat mematikan
critical thingking masyarakat dalam mengolah informasi, padahal kemampuan tersebut
merupakan kemampuan yang paling dibutuhkan di era digital. Pada hakikatnya,
masyarakat harus selalu menyisakan ruang kritis terhadap segala bentuk informasi
di ruang digital, baik yang yang disampaikan oleh pakar maupun oleh influencer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar